13 Desember 2009 0 Komentar

JUBAH RASULULLAH DAN WALIULLAH UWAYS

Jubah Rasulullah dan Seorang Wali Bernama Uways

Saat Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal dunia kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar dan Sayyidina ‘Ali melepaskan jubah Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- dan pergi ke kampung Uwais, ke tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam-. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani , tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani berada. Sayyidina ‘Umar mulai jengkel—bagaimana Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali berkata, “Wahai ‘Umar, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais, insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Rupanya Uwais adalah seorang pengembala ternak. Ibunya berada di sampingnya. Sayyidina Umar bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah )” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar menoleh pada Sayyidina ‘Ali dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani?” Sayyidina ‘Ali berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani.”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah . Kemana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat yang terpelihara [Lauh al-Mahfuzh], salah satunya adalah nama yang telah dijamin bagi semua orang itu. Ini adalah nikmat Allah yaitu bahwa mereka semua adalah hamba Allah.

Sayyidina ‘Umar bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- kepadaku.” Bagaimana beliau mengetahui bahwa Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- mengirim jubahnya untuknya, padahal beliau tidak pernah bertemu dengannya? Beliau mengambil jubah itu dan dan meletakkan di atas kepalanya. Beliau lalu melihat Sayyidina ‘Umar dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh ummat manusia, dan Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- memberikan tanggung jawab itu di pundakku”

Allah telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan Rasul dan Wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah tidak menciptakan kita untuk dibuang ke Neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di Surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh ummat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais menjawab, “Wahai ‘Umar pernahkah kalian melihat Rasulullah?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais. Lalu Sayyidina ‘Umar pun mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Kalian tidak melihat Rasulullah yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali? Pernahkah engkau melihat Rasulullah?” tanya Sayyidina Uwais. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ aku pun melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah , tetapi aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- sendiri. Beliau -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali dapat melihat di mana leher Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam-, dia akan seperti Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam-. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan [pada pertemuan] sebelumnya, dengan 3 macam cahaya, sehubungan dengan penciptaan diri kita oleh Allah Ta’ala yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam-, dan Cahaya Adam , dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah terhadap ummat manusia, (QS. al-Isra’ 17:70) [2]. Bagaimana Allah memuliakan ummat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais berkata kepada Sayyidina ‘Ali, “Wahai ‘Ali, engkau melihat Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- sekali.” Sayyidina ‘Ali membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual aku selalu bersamanya selama 24 jam,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Sayyidina ‘Uwais berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika aku harus duduk dengan kalian dan ummat kalian, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- memerintahkan aku untuk menjauhi kalian dan bersembunyi. Jika aku bersama kalian dan aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi dan Sayyidina ‘Isa.”

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- telah ada. Seluruh Wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi akan datang, begitu pula dengan Sayyidina ‘Isa . Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah.

Sayyidina Uwais berkata kepada Sayyidina ‘Umar, “Wahai ‘Umar, sebelum Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- lahir, beliau sudah menyebut ‘Ummatku, ummatku’ [“Ummatii, Ummatii”] dalam rahim ibunya; demikian pula ketika beliau -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- lahir, beliau -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- pun menyebut, ‘Ummatku, ummatku’ dan demikian pula ketika beliau -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- meninggal.” Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- memohon kepada Allah, “Aku ingin menjadi perantara bagi ummatku, aku ingin menolong ummat manusia, aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada ummat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kendali dan kekuatan itu, Ya Allah!” Ketika beliau wafat, Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- menolak untuk wafat kecuali dengan satu syarat, yaitu beliau -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh ummat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah, “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- memanggil seluruh makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap ruh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah. Dengan pengampunan dari Allah tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu ruh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau ruh dari ummat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam-. Beliau -sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam- menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu Wali ke Wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutnya akan diserahkan kepada Imam Mahdi ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Sayyidina ‘Isa pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali , mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar menangis terus selama hidupnya Penulis : M. Hasan

Berikan Tanggapan